Rupiah Melemah Tajam, Pemerintah Yakin Masih Dalam Kondisi Aman

photo author
Didi Setiabudi, Lintas Ide
- Rabu, 8 April 2026 | 12:41 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa soal pelemahan nilai turkar rupiah (Instagram/@menkeuri)
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa soal pelemahan nilai turkar rupiah (Instagram/@menkeuri)

LINTASIDE.COM, Jakarta - Setelah sempat menembus angka 16.000 an perdolar Amerika, kembali rupiah terkoreksi dan anjlog dari dolar Amerika. Pada perdagangan yang berlangsung Rabu, 8 April 2026, nilai tukar Rupiah terpantau bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.000 hingga Rp17.100 per dolar Amerika Serikat (AS).

Angka ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat luas. Namun, pemerintah melalui Kementerian Keuangan segera memberikan klarifikasi untuk meredam spekulasi yang berkembang.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan menenangkan terkait kondisi fundamental ekonomi saat ini. Menurutnya, pergerakan nilai tukar yang terjadi sekarang sebenarnya sudah masuk dalam model simulasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dikutip dari Ayoindonesia.com

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa tim di kementeriannya telah menyesuaikan parameter nilai tukar dalam simulasi anggaran ke level yang lebih realistis dengan kondisi pasar saat ini. Hal ini dilakukan agar APBN tetap memiliki ruang napas yang cukup meski nilai tukar mengalami depresiasi.

"Nilai rupiah dalam simulasi kami bukanlah angka yang tercantum pada dokumen APBN terdahulu. Kami telah mengereknya ke tingkatan tertentu, sehingga pergerakan harga pasar saat ini masih selaras dengan kalkulasi kami," ungkap Purbaya, Selasa, 7 April 2026.

Salah satu taktik yang diambil pemerintah dalam menjaga stabilitas adalah dengan tidak mengumbar angka simulasi internal secara mendetail kepada publik. Purbaya Yudhi Sadewa dengan sengaja merahasiakan batasan maksimal atau threshold dalam simulasi tersebut.

"Apabila saya memaparkan angka spesifiknya, publik mungkin akan beradu spekulasi bahwa mata uang kita bakal merosot ke titik tersebut. Terkait pengelolaan rupiah, biarlah pihak bank sentral yang menanganinya karena mereka adalah pakar di bidang itu," tutur Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa lebih lanjut.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) terus berjaga di garda terdepan. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menekankan bahwa fokus utama otoritas moneter saat ini adalah menjamin stabilitas pasar.

BI menyadari bahwa ketidakpastian global, mulai dari kebijakan suku bunga AS hingga tensi geopolitik, masih sangat tinggi. Oleh karena itu, respons kebijakan yang diambil harus bersifat terukur dan presisi.

"Keamanan dan stabilitas menjadi prioritas paling utama bagi kami. Bank Indonesia akan memaksimalkan penggunaan seluruh perangkat operasi moneter demi mengawal kestabilan nilai tukar," tegas Destry Damayanti.

Sebagai bentuk tindakan nyata, Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi di berbagai lini pasar valuta asing (valas).

Strategi intervensi ini tidak hanya dilakukan pada pasar spot (transaksi langsung), tetapi juga merambah ke instrumen derivatif seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga ekspektasi kurs di dalam negeri.

Selain itu, BI juga memantau pergerakan di pasar luar negeri melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

Dengan mengawasi kedua lini ini, BI berharap dapat meredam tekanan spekulatif yang seringkali muncul dari luar wilayah yurisdiksi Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Didi Setiabudi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X